BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Konsep teori
2.1.1 Kehamilan
A. Pengertian
Menurut Prasetyadi
(2012 : 19) kehamilan secara
alami dapat terjadi dengan terpenuhinya beberapa persyaratan mutlak, antara lain
: sperma suami yang normal, mulut rahim dan rongga rahim yang normal, saluran
telur (tubafallopi) yang intak (bebas dan tidak buntu), indung telur (ovarium)
normal, serta pertemuan sel sperma dan sel telur (ovum) pada saat yang tepat
(masa subur).
Menurut Prasetyadi (2012 : 20) fertilisasi merupakan proses terjadinya pembuahan yaitu
saat sel sperma dan sel telur bertemu. Proses ini adalah salah satu proses
biologis yang sangat penting, diawali dengan pelepasan sel telur (ovulasi) oleh
indung telur pada puncak masa subur. Pembuahan dapat terjadi dalam waktu
beberapa jam setelah ovulasi, proses ini terjadi di saluran telur.
Menurut,
Suwignyo, dkk (2010 : 43) tiga
pembagian waktu kehamilan yaitu trimester pertama apabila kehamilan masih
berumur 0-12 minggu. Trimester kedua, apabila umur kehamilan lebih dari 12-28
minggu, serta trimester ketiga apabila umur kehamilan lebih dari 28-40 minggu.
B. Tanda
Bahaya Kehamilan
Menurut Kemenkes Kesehatan RI,
Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan (2013) tanda bahaya kehamilan meliputi :
1. Mual
dan muntah pada kehamilan
Mual
dan muntah yang terjadi pada kehamilan hingga usia 16 minggu. Pada keadaan muntah-muntah
yang berat, dapat terjadi dehidrasi, gangguan asam basa dan elektrolit srta
ketosis, keadaan ini disebut hiperemesis gravidarum.
2. Abortus
Abortus
adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di
luar kandungan. Di kutip dari WHO IMPAC menetapkan batas usia kehamilan kurang
dari 22 minggu, namun beberapa acuan terbaru menetapkan batas usia kehamilan
kurang dari 20 minggu atau berat janin
kurang dari 500 gram.
3. Mola
Hidatidosa
Mola
hidatidosa adalah bagian dari penyakit trofoblastik gestasional, yang
desebabkan oleh kelainan pada villi korionik yang disebabkan oleh proliferasi
trofoblastik dan edem.
4. Kehamilan
ektopik terganggu
Kehamilan
ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar rahim (uterus). Hamper 95%
kehamilan ektopik terjadi di berbagai segmen tuba falopii, dengan 5% sisanya
terjadi di ovarium, rongga peritoneum atau di dalam serviks. Apabila terjadi
ruptur di implementasi kehamilan, maka akan terjadi keadaan perdarahan massif
dan nyeri abdomen akut yang disebut kehamilan ektopik terganggu.
5. Plasenta
previa
Plasenta
yang berimplantasi di atas atau mendekati ostium serviks interna. Hal ini dapat
disebabkan pada kehamilan dengan ibu berusia lanjut, multiparitas, dan riwayat
seksio sesarea sebelumnya.
Terdapat
empat macam plasenta previa berdasarkan lokasinya, yaitu:
a.
Plasenta previa
totalis – ostium internal ditutupi
seluruhnya oleh plasenta.
b.
Plasenta previa
parsialis – ostium internal ditutupi sebagian oleh plasenta.
c.
Plasenta previa
marginalis – tepi plasenta terletak di tepi ostium
internal.
d.
Plasenta previa letak
rendah –
plasenta berimplantasi di segmen bawah uterus sehingga tepi plasenta
terletak dekat dengan ostium.
6. Solusio plasenta
Solusio plasenta adalah terlepasnya
plasenta dari tempat implantasinya hal ini dapat disebabkan oleh trauma
abdomen, hipertensi, hidramnion, gemeli serta defisiensi besi.
2.1.2
Konsep
Anemia
A. Pengertian
anemia
Menurut
Rukiyah, dkk (2010:114) Anemia
merupakan suatu keadaan adanya penurunan kadar hemoglobin dibawah nilai normal.
Pada penderita anemia lebih sering disebut dengan kurang darah, kadar sel darah
merah dibawah nilai normal.
Menurut Tarwoto, dkk (2007:30) Anemia adalah kondisi
dimana berkurangnya sel darah merah dalam sirkulasi darah atau massa hemoglobin
sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen keseluruh
jaringan.
Menurut
Wibisono, dkk (2009:101) Ibu hamil dikatakan
anemia jika hemoglobin darahnya kurang dari 11gr%. Bahaya anemia pada ibu hamil
tidak saja berpengaruh terhadap
keselamatan dirinya, tetapi juga pada janin yang dikandungnya.
B.
Tanda dan gejala anemia pada Ibu
Hamil
Menurut Rukiyah,
dkk (2010:114) bila kadar Hb < 7gr% maka gejala dan tanda anemia akan jelas.
Nilai ambang batas yang digunakan untuk menentukan status anemia ibu hamil
berdasarkan kriteria WHO tahun 1972 ditetapkan 3 kategori yaitu:
1)
Normal > 11gr%
2)
Ringan 8-11gr%
3)
Berat <8gr%
Menurut Feryanto
(2011:37) gejala yang mungkin timbul pada anemia adalah keluhan lemah, pucat
dan mudah pingsan walaupun tekanan darah masih dalam batas normal.
Menurut
Proverawati (2011) banyak gejala anemia selama kehamilan, meliputi:
1)
Merasa lelah atau lemah
2)
Kulit pucat progresif
3)
Denyut jantung cepat
4)
Sesak napas
5)
Konsentrasi terganggu
C.
Penyebab Anemia Pada Ibu Hamil
Menurut Tarwoto,dkk (2007:13)
penyebab anemia secara umum adalah:
1)
Kekurangan zat gizi dalam makanan
yang dikonsumsi, misalnya faktor kemiskinan.
2)
Penyerapan zat besi yang tidak
optimal, misalnya karena diare.
3)
Kehilangan darah yang disebabkan
oleh perdarahan menstruasi yang banyak, perdarahan akibat luka.
Sebagian besar anemia di Indonesia penyebabnya
adalah kekuangan zat besi. Zat besi adalah salah satu unsur gizi yang merupakan
komponen pembentuk Hb. Oleh karena itu disebut “Anemia Gizi Besi”.
Menurut Feryanto (2011:37-38) anemia gizi besi
dapat terjadi karena hal-hal berikut ini:
1)
Kandungan zat besi dari makanan
yang dikonsumsi tidak mencukupi kebutuhan.
2)
Meningkatnya kebutuhan tubuh akan
zat besi.
3)
Meningkatnya pengeluaran zat besi
dari tubuh.
D.
Klasifikasi Anemia
Dalam Kehamilan
Klasifikasi Anemia Dalam
kehamilan menurut Tarwoto,dkk, (2007 : 42-56) adalah sebagai berikut:
1)
Anemia Defesiensi Besi
Anemia defesiensi besi merupakan
jenis anemia terbanyak didunia, yang disebabkan oleh suplai besi kurang dalam
tubuh.
2)
Anemia Megaloblastik
Anemia yang disebabkan karena
defesiensi vitamin B12 dan asam folat.
3)
Anemia Aplastik
Terjadi akibat ketidaksanggupan
sumsum tulang membentuk sel-sel darah. Kegagalan tersebut disebabkan kerusakan
primer sistem sel yang mengakibatkan anemia.
4)
Anemia Hemolitik
Anemia Hemolitik disebabkan
karena terjadi peningkatan hemolisis dari eritrosit, sehingga usianya lebih
pendek.
5)
Anemia Sel Sabit
Anemia sel sabit adalah anemia
hemolitika berat dan pembesaran limpa akibat molekul Hb.
E.
Pengaruh Anemia Pada
Kehamilan
Menurut Rukiyah, dkk (2010:114-115) pengaruh anemia
pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya
gangguan kelangsungan kehamilan (Abortus, partus prematurus), gangguan proses
persalinan (atonia uteri, partus lama), gangguan pada masa nifas (daya tahan
terhadap infeksi dan stress, produksi ASI rendah) dan gangguan pada janin
(abortus, mikrosomia, BBLR, kematian perinatal).
F.
Pencegahan Anemia
Kehamilan
Menurut
Proverawati (2011 : 137) nutrisi
yang baik adalah cara terbaik untuk mencegah terjadinya anemia jika sedang
hamil. Makan makanan yang tinggi kandungan zat besi (seperti sayuran berdaunan
hijau, daging merah dan kacang tanah) dapat membantu memastikan bahwa tubuh
menjaga pasokan besi yang diperlukan untuk berfungsi dengan baik. Pemberian
vitamin untuk memastikan bahwa tubuh memiliki cukup zat besi dan folat.
Pastikan tubuh mendapatkan setidaknya 27 mg zat setiap hari. Jika mengalami
anemia selama kehamilan, biasanya dapat diobati dengan mengambil suplemen zat
besi. Pastikan bahwa wanita hamil diperiksa pada kunjungan pertama kehamilan
untuk pemeriksaan anemia.
G.
Pengobatan Anemia
Kehamilan
Tablet tambah
darah adalah tablet besi folat yang setiap tablet mengandung 200 mg ferro
sulfat dan 0,25 mg asam folat. Wanita yang sedang hamil dan menyusui, kebutuhan
zat besinya sangat tinggi sehingga perlu dipersiapkan sedini mungkin semenjak
remaja. Minumlah 1 (satu) tablet tambah darah seminggu sekali dan dianjurkan
minum 1 (satu) tablet setiap hari selama haid. Untuk ibu hamil, minumlah 1
(satu) tablet tambah darah paling sedikit selama 90 hari masa kehamilan dan 40
hari setelah melahirkan. Perawatan diarahkan untuk mengatasi anemia. Transfusi
darah biasanya dilakukan untuk setiap anemia jika gejala yang dialami cukup
parah (Proverawati, 2011 : 136).
2.1.2
Persalinan
A. Pengertian
Persalinan
adalah suatu proses dimana bayi, plasenta, dan selaput ketuban keluar dari
uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia cukup
bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit (APN,2007).
Persalinan
adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang dapat hidup
di dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain (Rustam
Mochtar,2012).
B. Tanda-tanda
Persalinan
Menurut Rustam Mochtar (2012) terdapat tanda-tanda persalinan meliputi :
a.
Lightening/setting/dropping,
yaitu kepala turun memasuki PAP
terutama pada primigravida.
b.
Perut kelihatan lebih
melebar
c.
Perasaan sering/susah
kencing karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
d.
Perasaan sakit diperut
dan dipinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus.
e.
Serviks menjadi lembek,
mulai mendatar dan sekresinya bertambah bisa tercampur darah (bloody show).
f.
Terjadi tekanan pada
panggul
g.
Vaginal
discharge/keputihan akibat melunaknya rahim
h.
Kontraksi
Braxton-Hicks, hanya terasa dibawah perut/diatas daerah kemaluan, lemah dan
tidak teratur.
i.
Pecahnya air ketuban
C. Kala
Persalinan
Menurut Rustam Mochtar (2012) terdapat kala-kala persalinan
meliputi :
1.
Kala I (kala pembukaan)
Inpartu ditandai dengan
keluarnya lendir bercampur darah, karena
serviks mulai membuka dan mendatar, terdiri atas 2 fase :
a.
Fase laten : Pembukaan
serviks berlangsung lambat, sampai pembukaan 3cm berlangsung selama 7-8 jam.
b.
Fase aktif :
Berlangsung selama 6 jam, dibagi atas 3 periode :
(1) Periode
akselerasi : Berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4cm.
(2) Periode
dilatasi maksimal : Selama 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi 9cm.
(3) Periode
deselerasi : Berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam pembukaan menjadi
10cm/lengkap.
2.
Kala II (kala
pengeluaran janin)
Pada
kala pengeluaran janin, his terkoordinir, kuat, cepat, dan lebih lama,
kira-kira 2-3 menit sekali. Kepala janin telah turun masuk ruang panggul
sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara
reflektoris menimbulkan rasa mengejan. Karena tekanan pada rektum, ibu merasa
seperti ingin BAB dengan tanda anus terbuka.
Pada
waktu his, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka, perineum meregang.
3.
Kala III (kala pengeluaran
uri)
Setelah
bayi lahir, kontraksi rahim istirahat sebentar. Uterus teraba keras dengan
fundus uteri setinggi pusat, yang berisi plasenta yang menjadi tebal 2 kali
sebelumnya. Beberapa saat kemudian, timbul his pelepaan dan pengeluaran uri.
Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir.
4.
Kala IV
Dimulai
dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum. Tahap ini
merupakan tahap pengawasaan setelah bayi dan plasenta lahir untuk mengamati
keadaan ibu terutama terhadap bahaya post partum.
2.1.3
Konsep
Bayi Baru Lahir (BBL)
A.
Pengertian
Bayi
baru lahir adalah bayi yang baru lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42
minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai 4000 gram (Sari Wahyuni, 2011).
B. Ciri-ciri
BBL Normal
Ciri-ciri
BBL normal menurut Sari Wahyuni (2011) antara lain sebagai
berikut :
1
Berat badan 2500-4000
gram
2
Panjang badan 48-52 cm
3
Lingkar badan 30-38 cm
4
Lingkar kepala 33-35 cm
5
Bunyi jantung dalam
menit pertama kira-kira 180 x/menit kemudian menurun sampai 120 x/menit
6
Pernafasan pada menit
pertama kira-kira 80 x/menit kemudian turun sampai 40 x/menit
7
Kulit kemerah-merahan
dan licin karena jaringan subkutan terbentuk dan diliputi verniks caeseosa
8
Rambut lanugo tidak
terlihat, rambut tampak sempurna.
9
Kuku agak panjang dan
lemas
10 Testis
sudah turun (pada laki-laki), labia mayora telah menutupi labia minora (pada
perempuan)
11 Refleks
hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
12 Refleks
moro sudah baik, bayi dikagetkan akan memperlihatkan gerakan tangan seperti
memeluk
13 Graff
refleks sudah baik, bila diletakkan suatu benda ke telapak tangan maka akan
menggenggam
14 Eliminasi
urin dan mekonium akan keluar dalam 24 jam, pertama mekonium berwarna
kecoklatan.
C. Tanda
Bahaya BBL
Tanda bahaya baru lahir
menurut Depkes RI Tahun 2008 adalah :
1.
Tidak dapat menyusu
2. Kejang
3. Mengantuk dan tidak sadar
4. Nafas cepat (>60 per menit)\
5. Merintih
6. Retraksi dinding dada bawah
7. Sianosis sentral
2.1.4
Konsep
Nifas
A. Pengertian
Masa nifas
(puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat kandungan
kembali seperti keadaan sebelum hamil, berlangsung kira-kira 6 minggu. (Kemenkes
Kesehatan RI, Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan,
2013).
B. Tanda
Bahaya Masa Nifas
Tanda-tanda bahaya yang
perlu diperhatikan pada masa nifas ini adalah :
1.
Demam tinggi hingga
melebihi 380C
2.
Perdarahan vaginam yang
luar biasa atau bertambah banyak (lebih dari perdarahan haid), didertai
gumpalan darah yang besar-besar dan berbau busuk.
3.
Nyeri perut hebat atau
rasa sakit dibagian bawah abdomen atau punggung, serta nyeri ulu hati.
4.
Sakit kepala parah atau
terus menerus dan pandangan kabur atau masalah penglihatan.
5.
Pembengkakan pada wajah
jari-jari dan tangan.
6.
Rasa sakit, merah, atau
bengkak dibagian betis atau kaki.
7.
Payudara membengkak,
kemerahan, lunak disertai demam.
8.
Puting payudara
berdarah atau merekah, sehingga sulit untuk menyusui
9.
Tidak bisa buang air
besar selam tiga hari atau rasa sakit saat buang air besar.
2.1.5
Konsep
Keluarga Berencana (KB)
A. Pengertian
Menurut
WHO keluarga berencana adalah tndakan yang membantu individu atau pasangan
suami istri untuk; mendapatkan objektif-objektif tertentu; menghindari
kelahiran yang tidak diinginkan; mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan;
mengatur interval di antara kehamilan; mengontrol waktu saat kelahiran dalam
hubungan dengan umur suami istri; menentukan jumlah anak dalam keluarga (dr.
Hanafi Hartanto, 2015).
B. Macam-macam
KB dan cara kerjanya
Menurut
Saifudin (2013) pelayanan KB pasca persalinan dilakukan hingga 42 hari pasca
persalinan yang meliputi:
1.
AKDR
Dapat
dipasang langsung pasca persalinan, sewaktu sectio caesarea, atau 48 jam pasca
persalinan.
2.
Metode Amenore Laktasi
(MAL)
Menyusui
secara eksklusif merupakan suatu metode kontrasepsi sementara yang cukup
efektif, selama klien belum mendapat haid, dan waktunya kurang dari 6 bulan
pasca persalinan, dan efektifitas dapat mencapai 98% dan sangat efektif jika
menyusui lebh dari 8 kali sehari
3.
Kontrasepsi kombinasi
Selama
6 – 8 minggu pasca persalinan, kontrasepsi kombinasi akan mengurangi produksi
ASI dan mempengaruhi tumbuh kembang bayi. Jika tidak menyusui dapat dimulai 3
minggu pasca persalinan.
4.
Kontrasepsi Progestin
Jika
tidak menyusui dapat dimulai lebih dari 6 minggu pasca persalinan. Menurut Manuaba (2010),
metode KB terdiri dari sebagai berikut:
a.
Metode Amenore Laktasi (MAL)
b.
KB Alamiah, terdiri dari sistem kalender, metode suhu basal,
dan metode lender serviks.
c.
Senggama terputus
d.
Kondom
e.
Pil, terdiri dari:
1)
Pil kombinasi, berisi hormon estrogen dan progesteron
2)
Pil progestin, berisi hormon progesteron
f.
Suntik, terdiri dari:
1)
Suntik 1 bulan, berisi hormon estrogen dan progesteron
2)
Suntik 3 bulan, berisi hormon progesterone
g.
Implan
h.
Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
i.
Alat kontrasepsi mantap,
terdiri dari:
1) Tubektomi
2)
Vasektomi
2.2
Tinjuan
Teori Asuhan Kebidanan Menurut Helen Varney SOAP
2.2.1 Manajemen
Asuhan Kebidanan Kehamilan Helen
Varney SOAP
A. Pengertian
Konsep Dasar Asuhan
Kebidanan pada Kehamilan Trimester III
Asuhan kebidanan pada ibu hamil adalah pengawasan kehamilan
untuk mengetahui kesehatan umum ibu, menegakkan secara dini penyakit yang
menyertai kehamilan, menegakan secara dini komplikasi kehamilan, dan menetapkan
resiko kehamilan (Manuaba,2009).
B. Tujuan
Menurut
Sarwono (2010), Tujuan Asuhan Kebidanan pada Kehamilan, meliputi:
1. Memantau
kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
2. Meningkatkan
dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan social ibu dan bayi.
3. Mengenali
secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama
hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan, dan pembedahan.
4. Mempersiapkan
persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan
trauma seminimal mungkin.
5. Mempersiapkan
ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif.
6. Mempersiapkan
peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang
secara normal.
C. Langkah-langkah
(7 langkah helen verney)
Langkah I Pengkajian
data
(1) Data
subyektif
a.
Biodata pasien menurut
Sulistyawati (2012)
1)
Nama : untuk mengenal
dan mengetahui pasien
2)
Umur : untuk mengetahui
faktor resiko
3)
Agama : untuk
mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien
4)
Suku Bangsa : untuk mengetahui
faktor bawaan atau ras
5)
Pendidikan : untuk
mengetahui tingkat intelektual
6)
Pekerjaan : mengetahui
pengaruh pekerjaan terhadap masalah klien
7)
Alamat : untuk
mengetahui tempat tinggal pasien dan lingkungannya
b.
Alasan datang
Alasan datang
merupakan alasan pasien datang ke tempat bidan atau klinik, yang diungkapkan
dengan kata-katanya sendiri. (Hani,dkk,2011)
c.
Keluhan utama
Berisi
tentang keluhan yang dirasakan ibu, biasanya
pada ibu anemia yang dirasakan yaitu, lemah, letih, cepat lelah, cepat ngantuk.
(Proverawati,2011).
Menurut Proverawati (2010) tanda dan gejala ibu
hamil dengan anemia adalah sebagai berikut : keluhan
lemah, pucat, mudah pingsan, sementara tensi masaih dalam batas normal (perlu
dicurigai anemia defisiensi), mengalami malnutrisi, cepat lelah, sering pusing,
mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia),
konsentrasi hilang, nafas pendek (pada anemia parah), dan keluhan mual muntah
lebih berat pada hamil muda.
d.
Riwayat menstruasi
Dikaji untuk
mengetahui tentang menarch, siklus, volume, berapa lama menstruasi,
banyaknya menstruasi, keluhan, dan untuk mengetahui hari pertama menstruasi
serta untuk menentukan umur kehamilan dan tanggal kelahiran. (Salmah,2006)
e.
Riwayat hamil sekarang,
menurut Sulistyawati (2012) yaitu:
1)
HPHT dan apakah siklus menstruasi normal.
2)
Gerakan janin
(kapan mulai dirasakan dan apakah ada perubahan yang terjadi )
3)
Masalah dan
tanda-tanda bahaya
4)
Keluhan-keluhan
pada kehamilan
5)
Penggunaan
obat-obatan (termasuk jamu-jamuan)
6)
Kekhawatiran lain
yang dirasakan
f.
Riwayat perkawinan
Dalam
kasus ini riwayat perkawinan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh perkawinan
terhadap anemia. karena pada usia menikah kurang dari 20 tahun organ
reproduksinya belum siap untuk menerima hasil pembuahan, menikah lebih dari 35
tahun akan menyebabkan resiko tinggi bila terjadi kehamilan (Wiknjosasto,2009)
g.
Riwayat kehamilan,
persainan, dan nifas yang lalu
Dikaji
untuk mengetahui pada tanggal, bulan, tahun, berapa anaknya lahir, tempat
persalinan, umur kehamilan, umur kelahiran, jenis persalinan, penolong
persalinan, penyulit, jenis kelamin, berat badan lahir, panjang badan lahir,
riwayat nifas yang lalu dan keadaan anak sekarang. (Saifudin,2007)
h.
Riwayat keluarga
berencana
Dikaji
untuk mengetahui jenis alat kontrasepsi yang pernah digunakan ibu sebelum hamil
dan untuk mengetahui rencana KB yang akan digunakan ibu setelah melahirkan.
i.
Pola kebiasaan
1)
Nutrisi
Penting diketahui
supaya dapat menggambarkan bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya selama
hamil. Mulai dari menu apa saja yang dimakan, frekuensi makan dan minum, dan
ada keluhan atau tidak (Sulistyawati,2012)
2)
Eliminasi
Dikaji untuk mengetahui
pola BAB dan BAK, adakah kaitannya dengan obstipasi atau tidak (Varney,2007)
3) Istirahat
Istirahat sangat
diperlukan oleh ibu hamil, oleh karena itu bidan perlu mengenali kebiasaan
istirahat ibu hamil supaya dapat diketahui hambatan yang mungkin muncul jika
didapatkan data yang senjang antara pemenuhan kebutuhan istirahat. Pada anemia ringan dianjurkan untuk
istirahat total. (Sulistyawati,2012)
4)
Hubungan seksual
Dikaji untuk mengetahui
berapa kali frekuensi ibu melakukan hubungan seksual dalam seminggu, pola
seksual, dan keluhan. (Varney,2007)
5)
Personal hygine
Dikaji untuk mengetahui
berapa kali dalam sehari ibu menjaga kebersihan diri. Mandi, gosok gigi,
keramas, dan ganti pakaian. (Sulistyawati,2012)
6)
Aktifitas
Perlu dikaji untuk
mengetahui apakah anemia yang dialami ibu disebabkan karena aktifitas fisik
secara berlebihan. (Saifudin,2007)
7)
Perokok dan pemakaian
obat-obatan
Dikaji untuk mengetahui
apakah ibu perokok dan pemakai obat-obatan yang tidak dianjurkan selama
kehamilan (Saifudin,2007)
j.
Riwayat kesehatan
Riwayat
kesehatan menurut Hani dalam buku asuhan kebidanan pada kehamilan fisiologis
(2011) meliputi :
1)
Riwayat penyakit
sekarang
Dikaji untuk mengetahui
penyakit yang saat ini sedang diderita oleh ibu.
2)
Riwayat penyakit yang
lalu
Perlu dikaji apakah
pasien pernah menderita penyakit DM, hipertensi, jantung, asma, TBC, epilepsi,
atau penyakit lain yang pernah di derita.
3)
Riwayat penyakit
keluarga
Dikaji, apakah dalam
keluarga ada yang mempunyai penyakit menurun seperti DM, hipertensi, jantung,
asma, TBC, epilepsi, hepatitis, atau penyakit lain yang menurun.
4)
Riwayat operasi
Dikaji apakah ibu
pernah melakukan operasi, terutama operasi obstetrik.
k.
Psikososial budaya
Untuk mengetahui
bagaimana keadaan mental ibu dalam menjalani kehamilan ini dan respon keluarga.
Biasanya ibu hamil dengan anemia, akan tampak cemas. (Sulistyowati,2012)
(2) Data
objektif
Data yang diperoleh
melalui hasil observasi yang jujur dari pemeriksaan fisik pasien, pemeriksaan
laboratorium/ pemeriksaan diagnosis lain. (Asrinah dkk, 2010)
a.
Pemeriksaan fisik
1) Keadaan
umum
Keadaan umum awal yang
dapat diamati meliputi adanya kecemasan yang dialami pasien. (Salmah,dkk,2006)
2) Kesadaran
Untuk mengetahui
gambaran kesadaran pasien. Dilakukan dengan pengkajian tingkat kesadaran mulai
dari keadaan Composmentis (keadaan maximal) sampai dengan koma (pasien tidak
dalam keadaan sadar) (Sulistyawati,2012)
3) Tekanan
darah
Tekanan darah pada ibu
hamil tidak boleh mencapai 140 mmHg sistolik atau 90 mmHg diastolik. Perubahan
30 mmHg sistolik dan 15 mmHg diastolik di atas tekanan darah sebelum hamil,
menandakan toxaemia gravidarum (keracunan kehamilan) (Hani,dkk,2011)
4) Suhu
Untuk mengetahui suhu
badan, apakah ada peningkatan atau tidak, suhu normal 36,5–37,5°C.
(Sulistyawati,2012)
5) Nadi
Untuk mengetahui
nadipasien yang di hitung dalam menit. Batas normal 60-100 kali permenit.
(Hani,dkk,2011)
6) Respirasi
Untuk mengetahui
frekuensi pernafasan pasien yang dihitung dalam menit. Batas normal 20-24 kali
permenit. (Salmah,dkk,2006)
7) Tinggi
badan
Untuk mengetahui tinggi
badan ibu , dan mengetahui resiko tinggi badan. Tinggi normal untuk ibu hamil
adalah 145 cm. (Hani,dkk,2011)
8) Berat
badan
Untuk mengetahui berat
badan ibu, karena jika berat badan ibu berlebih dapat beresiko menyebabkan
komplikasi kehamilan meliputi diabetes gestasional, hipertensi akibat kehamilan
dan distorsia bahu. Kenaikan berat badan ibu normalnya selama kehamilan sekitar
6,5-15 kg. (Salmah,dkk,2006)
9) Lila
(lingkar lengan atas)
Untuk mengetahui
lingkar lengan atas pasien, sebagai ukuran status gizi ibu hamil jika kurang
dari 22 cm maka ststus gizi ibu hamil buruk. (Sulistyawati,2012)
b.
Pemeriksaan sistematis
1) Kepala
Untuk mengetahui rambut
rontok atau tidak, bersih atau kotor, dan berketombe atau tidak.
(Sulistyawati,2012)
2) Muka
Apakah terdapat odema
(pembengkakan) atau tidak, terdapat kloasma gravidarum atau tidak, dan muka
pucat atau tidak, karena pada pasien dengan anemia muka terlihat pucat.
(Hani,dkk,2011)
3) Mata
Untuk mengetahui warna
konjungtiva pucat atau tidak, dan sklera putih atau tidak. Pada penderita
anemia biasanya warna konjungtiva pucat dan sklera berwarna putih (Varney,2007)
4) Hidung
Untuk mengetahui adanya
kelainan, cuping hidung, benjolan, dan sekret. (Hani,dkk,2011)
5) Telinga
Untuk mengetahui
keadaan telinga, ada kotoran / serum
atau tidak. (Sulistyawati,2012)
6) Mulut,
gigi, dan gusi
Untuk mengetahui adanya
stomatitis, karies gisi, gusi berdarah atau tidak. (Sulistyawati,2012)
7) Leher
Untuk mengetahui ada
tidaknya pembengkakan kelenjar limfe, kelenjar tyroid, dan pembesaran vena
jugularis. (Hani,dkk,2012)
8) Dada
dan Axila menurut sulistyawati (2012) dalam buku Asuhan Kebidanan dalam masa
kehamilan, yaitu:
a)
Mamae
Untuk mengetahui
adanya pembesaran pada mamae, simetris atau tidak, puting susu menonjol atau
tidak, ada benjolan atau tidak, dan sudah ada pengelaran kolosterum atau belum.
b)
Axila
Untuk mengetahui
adanya nyeri tekan dan adanya benjolan pada daerah axial
9) Genetalia
Untuk mengetahui apakah
ada varises pada vagina, dan adakah pengeluaran pervaginam yaitu perdarahan
atau keputihan (Varney,2007)
10) Anus
Untuk mengetahui adakah
Hemoroid, dan varises pada anus. (Sulistyawati,2012)
11) Ekstermitas
Untuk mengetahui adakah
varises, odema atau tidak, apakah kuku jari pucat, suhu atau kehangatan, dan
untuk mengetahui reflek patella (Hani,dkk,2011)
c.
Pemeriksaan khusus
obstetri
1)
Abdomen
a)
Inspeksi
Inspeksi adalah
proses pengamatan dilakukan untuk menilai pembesaran perut sesuai atau tidak
dengan tuanya kehamilan, bentuk perut memanjang atau melintang, adakah linea
alba atau nigra, adakah strie albican atau livide, adakah kelainan pada perut,
serta untuk menilai pergerakan anak (Salmah,2006)
b)
Palpasi
Palpasi adalah
pemeriksaan dengan indera peraba yaitu tangan dilakukan untuk menentukan
besarnya rahim dengan menentukan usia kehamilan serta menentukan letak anak
dalam rahim. Pemeriksaan palpasi dengan metode Leopold menurut manuaba (2010)
meliputi :
Kontraksi :
Untuk mengetahui adanya kontraksi atau Tidak
1.
Leopold I : Untuk
mengetahui Tinggi Fundus Uteri (TFU) dan bagian apakah yang terdapat di fundus
2.
Leopold II : Untuk
mengetahui bagian punggung janin di sebelah kanan atau kiri
3.
Leopold III : Untuk
mengetahui bagian terbawah janin bokong atau kepala
4.
Leopold IV : Untuk
mengetahui apakah bagian terbawah janin sudah masuk pintu atas panggul (PAP)
atau belum
TFU (Mc. Donald)
: Untuk mengetahui TFU dengan menggunakan metlin mengukur dari fundus uteri
sampai atas simfisis.
Tafsiran
berat janin (TBJ) : Untuk mengetahui kisaran berat janin. TBJ : (TFU–12)x155
(belum masuk panggul/convergen).
(TFU–
11) x 155 (sudah masuk panggul/ divergen)
c)
Auskultasi
Adalah
pemeriksaan menggunakan stetoskop untuk mendengarkan bunyi detak jantung janin,
punctum maximum, frekuensi, normal atau tidak (Salmah,2006)
Detak Jantung
Janin (DJJ) :
Jumlah denyut
jantung janin normal antara 120 sampai 140 denyut permenit (Manuaba, 2010).
2) Pemeriksaan
panggul
Untuk mengetahui kesan
panggul normal atau tidak, berapa ukuran distansia spinarum, distansia
kristarum, konjungtiva eksterna (boudeloque) dan lingkar panggul
(Mochtar,2007).
3) Pemeriksaan
genitalia
Pemeriksaan pada vulva
vagina untuk mengetahui ada tidaknya varices, luka, kemerahan, nyeri, kelenjar
bartolini, pengeluaran pervaginam. Perineum untuk mengetahui ada atau tidaknya
bekas luka dan anus untuk mengetahui ada atau tidaknya haemorhoid (Sulistyawati,2012).
4) Pemeriksaan
penunjang
Laboratorium untuk
menguji adanya kelainan yang menyertai kehamilan atau tidak berguna untuk
mengetahui kesejahteraan janin. Pemeriksaan laboratorium digunakan untuk
mengkaji kadar Hb ibu hamil dengan anemia sedang, dimana kadar Hb ibu hanya
mencapai 7-8 gr%. (Manuaba, 2010).
a)
Pemeriksaan darah (Hemoglobin)
Minimal dilakukan 2x
selama hamil, yaitu pada trimester I dan III. Hasil pemeriksaan dengan sahli
dapat digolongkan sebagai berikut:
Tabel 2.4 Hasil Pemeriksaan Hb
dengan Sahli
|
HB
|
Hasil
|
|
11 gr %
|
tidak anemia
|
|
9-10 gr %
|
anemia ringan
|
|
7-8 gr %
|
anemia sedang
|
|
< 7 gr %
|
anemia berat
|
Sumber:
Winkjosastro, 2007
b) Golongan
darah
Pemeriksaan golongan
darah dilakukan satu kali pada kunjungan pertama kehamilan. Golongan darah ABO
dan faktor Rhesus (Rh). Ibu dengan rhesus negatif beresiko mengalami keguguran,
amniosentesis, atau trauma uterus, harus diberi anti-gammaglobulin D dalam
beberapa hari setelah pemeriksaan (Fraser dan Cooper, 2009).
c) Pemeriksaan
urin
Menurut Fraser dan
Cooper (2009) urinalisis dilakukan pada setiap kunjungan untuk memastikan tidak
adanya abnormalitas. Hal lain yang dapat ditemukan pada urinalisis rutin antara
lain:
(1)
Keton akibat pemecahan
lemak untuk menyediakan glukosa disebabkan
oleh kurangnya pemenuhan kebutuhan janin yang dapat terjadi akibat muntah,
hiperemesis, kelaparan,
atau latihan fisik yang berlebihan.
(2)
Glukosa karena
peningkatan sirkulasi darah. Untuk
memeriksa kadar gula dalam urine.
Hasilnya:
Tabel 2.5 Hasil
Pemeriksaan Urine Reduksi
|
Hasil
|
Keterangan
|
|
Negatif (-)
|
Warna biru sedikit kehijau-hijauan dan sedikit keruh
|
|
Positif 1 (+)
|
Hijau kekuning-kuningan dan agak keruh
|
|
Positif 2 (++)
|
Kuning keruh
|
|
Positif 3 (+++)
|
Jingga keruh
|
|
Positif 4 (++++)
|
Merah keruh
|
Sumber: Winkjosastro,
2007
Pada
ibu hamil dijumpai hasil urin reduksi positif 1 merupakan hal fisiologis,
karena terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat untuk persiapan
janin dan menyusui. Oleh karena itu, ibu butuh hormon insulin ekstra. Saat
kehamilan terjadi perlambatan penyerapan makanan, sehingga kadar gula meningkat
lama dan ibu memerlukan insulin untuk menetralisir gula tersebut. Di akhir kehamilan,
insulin meningkat 3x normal (tekanan diabetogenik) dalam kehamilan. Terjadi
resistensi insulin alamiah, sehingga tubuh tidak tahan glukosa karena plasenta
memproduksi hormon anti insulin, human
placental lactogen, dan glucagon.
Ibu hamil yang tidak dapat meningkatkan produksi insulin mengalami diabetes
mellitus, dengan hasil urin reduksi positif 2 atau lebih.
(3) Protein
akibat kontaminasi oleh leukore vagina. Untuk mengetahui ada
tidaknya protein dalam urine. Pemeriksaan dilakukan pada kunjungan pertama dan
pada setiap kunjungan pada akhir trimester II-III.
Tabel 2.6 Hasil Pemeriksaan Urine Albumin
|
Hasil
|
Keterangan
|
|
Negatif
(-)
|
Urine tidak keruh
|
|
Positif 1
(+)
|
Urine keruh
|
|
Positif 2
(++)
|
Kekeruhan mudah dilihat dan ada endapan halus
|
|
Positif 3
(+++)
|
Urine lebih keruh dan ada endapan yang lebih jelas terlihat
|
|
Positif 4
(++++)
|
Urine sangat keruh dan disertai endapan menggumpal
|
Sumber: Winkjosastro,
2007
(4)
Ultrasonografi (USG)
Pada trimester III
pemeriksaan USG digunakan untuk mengetahui presentasi janin, lokalisasi
plasenta, volume cairan amnion dan tafsiran berat janin (Varney, 2007).
Langkah
II. Interpretasi Data
Interpretasi
data (data dari hasil pengkajian) mencakup diagnosa kebidanan, masalah dan
kebutuhan. Data dasar yang sudah dikumpulkan, diinterpretasikan sehingga dapat
dirumuskan diagnosa masalah yang spesifik (Varney, 2007).
1)
Diagnosa kebidanan
Diagnosa yang ditegakkan dalam ruang
lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan.
Diagnosa kebidanan yang ditegakkan pada anemia sedang adalah Ny.X G….P…..A….
umur…. tahun, hamil….. minggu, tunggal/ kembar……., hidup/ mati …..,
intra/ekstrauteri……, memanjang/ melintang……, fleksi/defleksi……, presentasi
kepala/ bokong……, punggung kanan/ kiri…..
Data dasar :
Data
subyektif :
1.
Ibu mengatakan
bernama ny. X
2.
Ibu mengatakan
saat ini ia berumur ... tahun
3.
Ibu mengatakan
haid terakhir tanggal…
4.
Ibu mengatakan
ini kehamilannya yang ke…
5.
Ibu mengatakan
tidak pernah keguguran
6.
Ibu mengatakan
sering pusing
7.
Ibu mengatakan
mata berkunang-kunang
8.
Ibu mengatakan
mudah mengantuk
Data
objektif :
1. Keadaan umum dan vital sign
2. Conjungtiva dan sklera
3. HPL (hari perkiraan lahir)
4. Pemeriksaan leopold I sampai dengan leopold III
5. Djj (Denyut jantung janin)
Masalah : Hal-hal yang berkaitan dengan
pengalaman klien yang ditemukan dari hasil pengkajian yang menyertai diagnosa
(Varney,2004). Masalah yang sering timbul pada ibu hamil dengan anemia ringan
yaitu sering pusing, mudah lelah, mata berkunang-kunang (Proverawati,2011)
Kebutuhan : Hal-hal yang dibutuhkan oleh
pasien dan belum teridentifikasi dalam diagnosa dan masalah yang didapatkan
dengan melakukan analisis data (Varney,2007) Kebutuhan untuk ibu hamil dengan
anemia sedang adalah pemberian konseling tentang anemia dan pengaruhnya
terhadap kehamilan.
Langkah III. Diagnosa Potensial
Langkah ini mengidentifikasi
masalah atau diagnosa yang sudah diidentifikasi, oleh karena itu membutuhkan
pencegahan serta pengawasan pada ibu hamil dengan anemia terhadap kehamilannya
(Varney,2007)
Pada kasus ibu hamil dengan
anemia diagnosa potensial yang mungkin terjadi adalah anemia sedang, abortus,
partus prematurus, dan hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim (Manuaba.2010)
Langkah IV. Tindakan Segera
Menunjukan bahwa bidan dalam
melakukan tindakan harus sesuai dengan prioritas masalah atau kebutuhan yang
dihadapi kliennya, setelah bidan merumuskan tindakan yang dilakukan untuk
mengantisipasi diagnosa atau masalah potensial yang sebelumnya. Penanganan
segera pada kasus anemia ini adalah melakukan kolaborasi dengan tenaga
kesehatan lain seperti dokter obsygn, ahli gizi, dan laboratorium (Varney,2007)
Langkah V. Rencana Tindakan Asuhan Kebidanan
Mengembangkan tindakan
komprehensif yang ditentukan pada tahap sebelumnya, juga mengantisipasi
diagnosa dan masalah kebidanan secara komprehensif yang didasari atas rasional
tindakan yang relevan dan diakui kebenarannya sesuai kondisi dan situasi
berdasarkan analisa dan asumsi yang seharusnya boleh dikerjakan atau tidak oleh
bidan.
Rencana asuhan yang di berikan
pada ibu hamil dengan anemia menurut Penatalaksanaan Anemia menurut
Wiknjosastro (2009) adalah:
(1)
Pengobatan dapat
dilakukan dengan pemberian preparat besi sebanyak 600-1000mg perhari. Seperti
sulfat-ferrosus atau glukonas ferrosus sampai Hb naik menjadi 10g/100ml atau
mungkin lebih bila waktu masih cukup sampai dengan janin lahir.
(2)
Pemberian vitamin
C lebih efisien karena vitamin C mempunyai khasiat mempermudah penyerapan Fe
oleh selaput usus, dan anjurkan ibu untuk:
a.
Meminum tablet Fe
dan makan buah-buahan yang kaya akan vitamin C seperti jeruk dan tomat.
b.
Makan sayuran
yang berwarna hijau setiap hari
c.
Menghindari
meminum teh dan kopi saat meminum tablet Fe karena dapat menghambat penyerapan
zat besi
Penatalaksanaan Anemia menurut Saifuddin (2007)
1.
Pemantauan kadar
Hb
2.
Beri transfusi
darah bila perlu
3.
Pantau
keseimbangan cairan
4.
Beri Furrosemida
20mg IV atau peroral
5.
Beri sulfas
ferosus 60mg peroral ditambah asam folat 50μm per oral, sekali sehari.
Dari penatalaksanaan
anemia tersebut untuk asuhan kebidanan yang diberikan pada klien dapat
dilakukan:
1.
Menganjurkan ibu
untuk banyak beristirahat
2.
Memberikan
konseling tentang kebutuhan nutrisi selama masa kehamilan
3.
Memberikan
konseling tentang tablet penambah darah dan sumber makanan yang mengandung zat
besi
4.
Memberikan
konseling kepada ibu tentang pengaruh anemia dalam kehamilan
5.
Pemeriksaan kadar
Hb rutin
Langkah VI. Impelementasi
Langkah ini merupakan
pelaksanaan asuhan yang menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah
kelima, dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini dapat dilakukan
oleh bidan atau sebagian dilakukan oleh klien atau tenaga lainya (Varney, 2007)
Langkah VII. Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan dan
seluruh asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan teblet
Fe. Apakah telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah
diidentifikasi di dalam masalah diagnosa.(Varney, 2007)
Evaluasi pada ibu hamil dengan
anemia menurut Wiknjosastro (2009)
1)
Terpenuhinnya
kebutuhan ibu untuk banyak beristirahat
2)
Ibu mengerti
tentang tentang kebutuhan nutrisi selama masa kehamilan
3)
Ibu mengerti
tentang tentang tablet penambah darah dan sumber bahan makanan yang mengandung
zat besi
4)
Ibu mengerti ibu
tentang pengaruh anemia dalam kehamilan
5)
Pemeriksaan kadar
Hb rutin, dan kadar Hb meningkat.
Menurut Varney dalam Asrinah
(2010) sistem pondokumentasian asuhan kebidanan dengan menggunakan SOAP yaitu:
a.
S (subjektif) :
Menggambarkan dan mendokumentasikan
hasil pengumpulan data klien melalui
anamnesa sebagai langkah satu Varney.
b.
O (objektif) :
Menggambarkan dan mendokumentasikan hasil pemeriksaan fisik klien, hasil
laboratorium, dan tes diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk
mendukung asuhan langkah satu Varney.
c.
A (assesment) :
Menggambarkan dan mendokumentasikan Hasil analisa dan interpretasi data
subjektif dan objektif suatu identifikasi.
d.
P (planning) :
Menggambarkan dan mendokumentasikan dari tindakan dan evaluasi perencanaan
berdasarkan pada assesment sebagai langkah V, VI, VII Varney.
2.2.2
Manjemen
Asuhan Kebidanan Persalinan Helen Varney SOAP
A. Subyektif
Keluhan utama
Menurut
Asrinah (2010), keluhan yang dapat terjadi pada ibu bersalin, yaitu:
Pada Kala 1
a) Pinggang
terasa sakit menjalar ke depan, sifat teratur, interval semakin pendek dan
kekuatannya semakin besar.
b) Nyeri semakin hebat bila untuk aktifitas (jalan) dan
tidak berkurang bila dibuat tidur.
c) Mengeluarkan
lendir darah melalui vagina.
d) Keluar
banyak cairan dari jalan lahir akibat pecahnya ketuban atau selaput ketuban
robek.
Pada Kala 2
a) Ibu
merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
b) Ibu
merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum dan vagina.
c) Pemeriksaan umum
B. Objektif
Keadaan umum : baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda vital :
a) Tekanan
darah
Meningkat
selama kontraksi dengan tekanan sistolik meningkat rata-rata 10-20 mmHg dan
tekanan diastolik meningkat rata-rata 5-10 mmHg.
b) Nadi
Normalnya
80-100x/menit, terjadi perubahan mencolok selama kontraksi, menurun pada saat
puncak kontraksi hingga mencapai frekuensi yang lebih rendah dari pada
frekuensi nadi diantara kontraksi.
c) Pernapasan
Pada
saat persalinan, pernapasan normal antara 18-24x/menit.
d) Suhu
Normalnya antara 36,5-37,5o C,
sedikit meningkat selama proses persalinan, paling tinggi selama dan sesaat
setelah kelahiran. Suhu dianggap normal jika peningkatannya tidak lebih dari
0,5-1oC.
Tinggi badan : Ibu
hamil dengan tinggi badan kurang dari rata-rata (diperkirakan kurang dari 145
cm) kemungkinan panggulnya sempit.
Berat badan : Pada
akhir kehamilan pertambahan berat badan total 9-12 kg. Bila kenaikan berat
badan terdapat kenaikan berlebihan, perlu dipikirkan resiko (bengkak, kehamilan
kembar, hidramnion, anak besar).
LILA : Lila
kurang dari 23,5 cm merupakan indikator kuat untuk status gizi ibu kurang atau
buruk, sehingga dia beresiko untuk melahirkan BBLR.
1) Pemeriksaan
fisik
a) Wajah
Tidak
pucat, tidak bengkak. Apabila wajah ibu terlihat pucat, kemungkinan anemi dan
apabila wajah ibu bengkak, kemungkinan terjadi pre eklampsi.
b) Mata
Sklera
putih, konjungtiva merah muda, fungsi penglihatan baik. Apabila sklera ibu
kuning kemungkinan ibu menderita hepatitis dan apabila konjungtiva ibu pucat,
kemungkinan anemia.
c)
Mulut
Mukosa bibir lembab,
tidak pucat. Apabila mukosa bibir ibu kering, menandakan dehidrasi dan apabila
pucat menandakan anemia (Manuaba, 2005).
d) Leher
Normalnya
tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, pembesaran kelenjar limfe dan bendungan
vena jugularis. Kelenjar tyroid yang sedikit membesar saat hamil perlu evaluasi
tentang hipertyroid. Pembengkakan limfe kemungkinan infeksi dan metastase
keganasan (jarang). Bendungan vena jugularis kemungkinan gangguan aliran darah
akibat penyakit jantung atau aneurisma vena (Manuaba, 2007).
e) Payudara
Menurut
Manuaba (2007), pemeriksaan payudara pada ibu bersalin, meliputi:
(1) Puting
susu: bersih dan menonjol (puting susu datar atau tenggelam membutuhkan
perawatan payudara untuk persiapan menyusui).
(2) Kolostrum:
sudah keluar (Adanya kolostrum karena prolaktin yang tinggi, menyebabkan
pembentukan kolostrum lebih awal, terjadi perubahan keseimbangan antara
estrogen dan progesterone, oksitosin dan prolaktin mengakibatkan dikeluarkannya
kolostrum dan merupakan tanda bahwa ASI akan banyak).
f) Abdomen
Menurut
Manuaba (2005), pemeriksaan abdomen pada ibu bersalin, meliputi:
(1) TFU
Mc. Donald (cm): sesuai dengan umur kehamilan.
(2) Pemeriksaan
Leopold
(a) Leopold
I
(b) Leopold
II
(c) Leopold
III
(d) Leopold
IV
(3) DJJ
g) Genetalia
Bersih,
tidak oedem, tidak varises, tidak ada kondiloma
talata maupun akuminata, tidak
ada tanda-tanda infeksi, tidak ada pembesaran kelenjar bartholini, terdapat pengeluaran lendir bercampur darah (Manuaba,
2005).
h) Anus
Haemorroid
tidak menonjol
i)
Ekstrimitas
(1)
Atas : tidak oedem
(2)
Bawah : tidak oedem, tidak varises
Reflek patella kanan/ kiri : +/+
2) Pemeriksaan
khusus
Pemeriksaan Dalam/
Vagina Toucher (VT)
Menurut
Manuaba (2005), yang diperhatikan saat VT adalah:
(a)
Perabaan
serviks : Penipisan dan pembukaan
Penipisan kala I 10-90%, kala II 100%
Pembukaan kala I fase laten 1-3cm, fase aktif 4-10cm
(b) Ketuban : Utuh/ sudah pecah
Pada
kala I ketuban masih utuh, kecuali pada kasus KPD
Pada
kala II ketuban sudah pecah, bila belum pecah, dapat dilakukan amniotomi.
(c)
Presentasi : Normalnya teraba kepala
(d)
Denominator : Normalnya teraba UUK
(e)
Penurunan
kepala : Hodge I-IV
Pada kala I hodge I-III
Pada kala II hodge IV
(f)
Normalnya
tidak ada caput dan bagian yang menumbung.
3) Pemeriksaan
penunjang
Menurut Winkjosastro (2007) dalam pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada ibu
bersalin, yaitu:
(a) Pemeriksaan
darah (Hb)
Batas
terendah untuk kadar Hb dalam kehamilan adalah 10 gr/100 ml. Wanita yang
memiliki Hb kurang dari 10 gr/100ml baru disebut anemia dalam kehamilan.
(b) Pemeriksaan
urine albumin
Untuk mengetahui ada
tidaknya protein dalam urine. Bila
ada protein dalam urine maka harus dianggap sebagai gejala pre eklampsi, jika
positif 2-3 gejala pre eklampsi ringan-sedang dan jika positif 4 gejala pre
eklampsi berat.
(c) Pemeriksaan
urine reduksi
Untuk memeriksa kadar
gula dalam urine. Bila ada glukosa dalam urine maka harus dianggap sebagi
gejala diabetes mellitus, kecuali kalau dapat dibuktikan hal-hal lain
penyebabnya.
C. Analisa Data
Diagnosa
G_PAPIAH UK
38-42 minggu, tunggal/ gemeli, hidup, intrauterine, letak, kesan jalan lahir,
keadaan ibu dan janin, Inpartu Kala I fase aktif.
D. Pelaksanaan
Menurut
Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan (2013), perencanaan yang
dilakukan pada ibu bersalin, yaitu:
a)
Kala I
(1) Beri
dukungan dan dengarkan keluhan ibu.
(2) Jika
ibu tampak gelisah/kesakitan, biarkan ibu berganti posisi sesuai keinginan,
biarkan ibu berjalan-jalan beraktivitas ringan, lakukan massase pada punggung
ibu, ajari teknik bernapas.
(3) Jaga
privasi ibu.
(4) Ijinkan
ibu untuk mandi atau membasuh kemaluannya setelah buang air besar kecil/besar.
(5) Jaga
kondisi ruangan sejuk.
(6) Beri
minum yang cukup untuk menghindari dehidrasi.
(7) Sarankan
ibu berkemih sesering mungkin
(8) Pantau
parameter berikut secara rutin dengan menggunakan partograf
Tabel
2.3 Penilaian dan intervensi selama kala I
|
Parameter
|
Frekuensi
pada kala I laten
|
Frekuensi
pada kala I aktif
|
|
Tekanan
darah
|
Tiap
4 jam
|
Tiap
4 jam
|
|
Suhu
tiap 4 jam
|
Tiap
2 jam
|
|
|
Nadi
|
Tiap
30-60 menit
|
Tiap
30-60 menit
|
|
Denyut
jantung janin
|
Tiap
1 jam
|
Tiap
30 menit
|
|
Kontraksi
tiap satu jam
|
Tiap
30 menit
|
|
|
Pembukaan
serviks
|
Tiap
4 jam*
|
Tiap
4 jam*
|
|
Penurunan
kepala
|
Tiap
4 jam*
|
Tiap
4 jam*
|
|
Warna
cairan amnion
|
Tiap
4 jam*
|
Tiap
4 jam*
|
*Dinilai
pada setiap pemeriksaan dalam
Tabel
2.4 Yang harus diperhatikan dalam persalinan kala I
|
Kemajuan
|
Tanda
dan gejala
|
Keterangan
|
|
Persalinan
|
Kontraksi
tidak progresif teratur
Kecepatan
pembukaan serviks < 1cm/jam
Serviks
tidak dipenuhi bagian bawah rahim
|
Lihat
tatalaksana persalinan lama di bab 4.17
|
|
Kondisi
ibu
|
Denyut nadi meningkatk
Tekanan
darah turun
Terdapat
aseton urin
|
Kemungkinan
dehidrasi atau kesakitan
Nilai
adakah perdarahan
Curiga
asupan nutrisi kurang, beri dekstrosa IV bila perlu
|
|
Kondisi
bayi
|
Denyut
jatung < 100 atau >180/menit
Posisi
selain oksiput anterior dengan fleksi sempurna
|
Curiga
kemungkinan gawat janin
Lihat
tatalaksana malposisi/malpresentaasi di bab 4.18
|
Selain kondisi di atas,
ada bebrapa tindakan yang sering dilakukan namun sebenarnya tidak banyak
membawa manfaat bahkan justru merugikan, sehingga tidak dianjurkan melakukan
hal-hal berikut:
1) Kateterisasi
kandung kemoh rutin : dapat meningkatkan resiko infeksi saluran kemih. Lakukan
jika ada indikasi.
2) Posisi
terlentang : dapat mengurangi detak
jantung dan penurunan aliran darah uterus sehingga kontraksi melemah.
3) Mendorong
abdomen : menyakitkan bagi ibu, meningkatkan resiko ruptura uteri.
4) Mengedan
sebelum pembukaan serviks lengka : dapat menyebabkan edema dan/atau laserasi
serviks.
5) Edema.
6) Pencukuran
rambut pubis.
7) Membersihkan
vagina dengan antiseptik selama persalinan.
b)
Asuhan Kala II
APN langkah 1-27
1. Mendengar
dan melihat adanya tanda persalinan kala dua
2. Memastikan
kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan ampul dan
memasukkan alat suntik sekali pakai 2 ½ ml ke dalam wadah partus set
3. Memakai
celemek plastik
4. Memastikan
lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
5. Menggunakan
sarung tangan DTT pada tangan kanan yang akan digunakan untuk pemeriksaan
dalam
6. Mengambil
alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin dan letakkan kembali kedalam wadah
partus set
7. Membersihkan
vulva dan perineum dengan kapas basah dengan gerakan dari vulva ke perineum
8. Melakukan
pemeriksaan dalam, pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban sudah
pecah
9. Mencelupkan
tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5% dan membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam
larutan klorin 0,5%
10. Memeriksa
denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai, pastikan DJJ dalam batas
normal (120-160 x/menit)
11. Memberitahu
ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, meminta ibu untuk meneran
saat ada his apabila ibu sudah merasa ingin meneran
12. Meminta
bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran (pada saat ada his,
bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman
13. Melakukan
pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan kuat untuk meneran
14. Menganjurkan
ibu untuk berjalan, jongkok dan mengambil posisi nyaman, jika ibu merasa ada
dorongan untuk meneran dalam 60 menit
15. Meletakkan
handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah
membuka vulva dengan diameter 5-6 cm
16. Meletakkan
kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu
17. Membuka
partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan
18. Memakai
sarung tangan DTT pada kedua tangan
19. Saat
kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5-6 cm, memasang handuk bersih untuk mengeringkan
bayi pada perut ibu
20. Memeriksa
adanya lilitan tali pusat pada leher janin
21. Menunggu
hingga kepala janin selesai melakukan putar paksi luar secara spontan
22. Setelah
kepala melakukan putar paksi luar, pegang secara biparental. Menganjurkan
kepada ibu untuk meneran saat kontraksi, dengan lembut gerakan kepala ke arah bawah dan distal hingga bahu depan
muncul di bawah arkus pubis dan kemudian gerakan ke arah atas dan distal
untuk melakukan bahu belakang
23. Setelah
bahu lahir, geser tangan bawah kearah
perineum ibu untuk menyanggah
kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan
memegang tangan dan siku sebelah atas
24. Setelah
badan dan lengan lahir, tangan kiri
menyusuri punggung ke arah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang
tungkai bawah (selipkan jari telunjuk tangan kiri diantara lutut janin)
25. Melakukan
penilaian selintas :
a. Apakah
bayi menangis kuat ?
b. Apakah
bayi bernafas tanpa kesulitan ?
c. Apakah
bayi bergerak aktif ?
26. Mengeringkan
tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian
tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang
kering dan membiarkan bayi di atas perut ibu
27. Memeriksa
kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus
c)
Kala III
APN 28-41 langkah
28. Memberitahu
ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus berkontraksi baik
29. Dalam
waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan
oksitosin 10 unit IM
(intramuscular) di 1/3 paha atas
bagian distal lateral (lakukan aspirasi
sebelum menyuntikkan oksitosin)
30. Setelah
2 menit pascapersalinan, jepit tali
pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke
arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem
pertama
31. Dengan
satu tangan, pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi) dan
lakukan pengguntingan tali pusat di antara dua klem tersebut
32. Mengikat
tali pusat dengan benang DTT atau
steril pada satu sisi kemudian
melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada
sisi lainnya
33. Menyelimuti
ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di kepala bayi
34. Memindahkan
klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva
35. Meletakkan
satu tangan di atas kain pada perut ibu, di
tepi simfisis, untuk mendeteksi.
Tangan lain meregangkan tali pusat
36. Setelah uterus
berkontraksi, regangkan tali pusat dengan tangan kanan, sementara tangan
kiri menekan uterus dengan hati-hati kearah dorsokranial. Jika plasenta tidak
lahir setelah 30-40 detik, hentikan peregangan tali pusat dan menunggu hingga
timbul kontraksi berikutnya dan mengulangi prosedur
37. Melakukan
peregangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong
menarik tali pusat dengan arah sejajar
lantai dan kemudian ke arah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan
tekanan dorsokranial)
38. Setelah
plasenta tampak pada vulva, teruskan
melahirkan plasenta dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan), pegang
plasenta dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk membantu
pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban
39. Segera
setelah plasenta lahir, melakukan masase
pada fundus uteri dengan
menggosok fundus uteri secara
sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi
uterus baik (fundus teraba keras)
40. Periksa
bagian maternal dan bagian
fetal plasenta dengan tangan
kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput ketuban sudah lahir lengkap, dan masukkan ke dalam
kantong plastik yang tersedia.
41. Evaluasi kemungkinan
laserasi pada vagina dan
perineum. Melakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan
d)
Kala IV
APN 42-58 Langkah
42. Memastikan uterus
berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam
43. Membiarkan bayi tetap melakukan
kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit
1 Jam
44. Setelah
1 jam, lakukan penimbangan/pengukuran
bayi, beri tetes mata antibiotik
profilaksis dan vitamin K1 1 mg intramuskular di paha kiri anterolateral
45. Setelah
1 jam pemberian vitamin K1 berikan
suntikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral
46. Melanjutkan
pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam
47. Mengajarkan
ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi
48. Evaluasi
dan estimasi jumlah kehilangan darah
49. Memeriksa
nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama
pascapersalinan dan setiap 30 menit selama 1 jam kedua pascapersalinan
50. Memeriksa
kembali untuk memastikan bahwa bayi bernafas dengan baik
51. Menempatkan
semua peralatan bekas pakai ke dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi
(10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah didekontaminasi
52. Buang
bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai
53. Membersihkan ibu dengan menggunakan air DTT. Membersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan
darah. Bantu ibu memakai pakaian bersih dan kering
54. Memastikan
ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk membantu apabila ibu ingin minum
55. Dekontaminasi
tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%
56. Membersihkan
sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5% melepaskan sarung tangan dalam
keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%
57. Mencuci
tangan dengan sabun dan air mengalir.
58. Melengkapi
partograf.
2.2.3
Manajemen
Asuhan Kebidanan BBL Helen Varney SOAP
1. Subyektif
Pada asuhan ini bayi
normal tidak ada keluhan.
2. Objektif
a.
Pemeriksaan umum
a) Kesadaran
Menurut,
kesadaran pada neonatus meliputi pergerakan bayi aktif, pernapasan regular,
warna kulit merah muda.
b) Tanda-tanda
vital
1) Suhu
Suhu
bayi normal adalah antara 36,5oC-37,5oC. Suhu tubuh bayi
diukur melalui dubur atau ketiak. Suhu aksila pada bayi baru lahir berkisar
antara 33oC-36oC . Hipertermia (suhu tubuh >41oC)
adalah keadaan berbahaya sehingga perlu penurunan suhu tubuh dengan segera.
Hipotermia (suhu tubuh <35oC) juga dapat berakibat fatal,
terutama pada bayi prematur.
2) Pernapasan
Laju
napas normal neonatus berkisar antara 40-60 kali permenit. perhitungan harus
dilakukan satu menit penuh karena sering terdapat periodic breathing, yaitu pola pernapasan pada neonatus, terutama
prematur, yang ditandai dengan henti napas yang berlangsung kurang dari 20
detik, dan terjadi secara berkala. Perhatikan juga tipe pernapasan neonatus.
3) Nadi
Nadi
apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/ menit.
b.
Pemeriksaan fisik
a) Kulit
Kulit
neonatus ditutupi oleh zat seperti lemak (verniks
kaseosa) berfungsi sebagai pelumas serta isolasi panas. Lanugo (rambut
halus yang terdapat pada punggung bayi) lebih banyak pada bayi kurang bulan dan
makin berkurang pada bayi cukup bulan.
b) Kepala
Pada
kelahiran spontan letak kepala sering terlihat tulang kepala tumpang tindih
karena Perhatikan adanya kelainan yang disebabkan trauma lahir, seperti kaput
suksedaneum, hematoma sefal, perdarahan subaponeurotik, atau fraktur tulang tengkorak.
Perhatikan juga kelainan kongenital, seperti anensefali, mikrosefali,
kraniotabes, atau hidrosefalus.
c) Muka
Wajah
neonatus sering tampak asimetris oleh karena posisi janin intrauterin. Kelainan
wajah yang khas terdapat pada beberapa sindrom, seperti sindrom Down atau
sindrom Pierre-Robin.
d) Mata
Konjungtiva
merah muda, sclera putih. Perhatikan adanya sekret mata. Konjungtivitis oleh
kuman gonokok cepat menjadi panoftalmia dan menyebabkan buta.
e) Hidung
Neonatus
bernapas melalui hidung. Bila bernapas melalui mulut, harus dipikirkan
kemungkinan adanya obstruksi jalan napas karena atresia koana bilateral,
fraktur tulang hidung, atau ensefalokel yang menonjol ke nasofaring. Pernapasan
cuping hidung menunjukkan adanya gangguan paru.
f) Mulut
Dengan
inspeksi, dapat terlihat adanya labio dan gnatoskisis, adanya gigi atau ranula,
yaitu kista lunak berasal dari dasar mulut. Perhatikan lidah apakah membesar,
seperti pada sindrom Beckmith, atau selalu bergerak, seperti pada sindrom Down.
Neonatus dengan edema otak atau tekanan intrakranial meninggi seringkali
lidahnya keluar masuk (tanda Foote).
g) Telinga
Pada
neonatus cukup bulan telah terbentuk tulang rawan, sehingga bentuk telinga
dapat dipertahankan. Perhatikan letak daun telinga. Daun telinga yang letaknya
rendah (low set ears) terdapat pada
neonatus dengan sindrom Pierre-Robin. Bila terdapat tanda-tanda infeksi,
periksalah membran timpani.
h) Leher
Leher
neonatus tampak pendek, tetapi pergerakan baik. Bila terdapat keterbatasan
pergerakan, perlu dipikirkan kelainan tulang leher. Trauma leher pada
persalinan sulit, dapat menyebabkan kerusakan pleksus brakialis, sehingga
terjadi paresis pada tangan, lengan, atau diafragma. Dapat terjadi perdarahan. Sternokleidomastoideus yang bila tidak
ditangani dengan baik, dapat menyebabkan tortikolis. (Latief, 2013).
i)
Dada
Bentuk
dada neonatus seperti tong. Pada respirasi normal dinding dada bergerak bersama
dengan dinding perut.
j)
Abdomen
Dinding
perut neonatus lebih datar dari pada dinding dadanya. Bila perut sangat cekung.
Perut yang membuncit mungkin disebabkan hepatosplenomegali, tumor lainnya, atau
cairan di dalam rongga perut.
k) Genitalia
Pada
bayi perempuan cukup bulan, labia minora tertutup oleh labia mayora. Lubang
uretra terpisah dari lubang vagina. Bila hanya terdapat satu lubang, berarti
ada kelainan. Kadang tampak sekret berdarah dari vagina, disebabkan oleh
pengaruh hormon ibu (wihdrawal bleeding).
Pada bayi laki-laki sering terdapat fimosis. Ukuran penis berkisar antara 3-4
cm (panjang) dan 1-1,3 cm (lebar).
l)
Anus
Pemeriksaan
anus untuk mengetahui ada tidaknya atresia ani. Perhatikan adanya anus
imperforata dengan memasukkan termometer ke anus. Pengeluaran mekonium biasanya
terjadi dalam 24 jam pertama.
m) Punggung
Neonatus
diletakkan dalam posisi tengkurap, tangan pemeriksa meraba sepanjang tulang
belakang untuk mencari adanya skoliosis, meningokel, spina bifida, spina bifida
okulta, atau sinus pilonidalis.
n)
Ekstremitas
Perhatikan
pergerakan ekstremitas. Bila ada asimetri, kemungkinan adanya patah tulang atau
kelumpuhan saraf. Kelumpuhan pada lengan mungkin disebabkan oleh fraktur
humerus atau kelumpuhan Erb
(kerusakan pada saraf servikal 5 dan 6).
c.
Pemeriksaan refleks
1) Reflek
rooting
Diperiksa
dengan menyentuhkan ujung jari atau puting di sudut mulut bayi, maka bayi akan
menengok ke arah rangsangan dan berusaha memasukkan ujung jari tersebut ke
mulutnya.
2) Reflek
sucking
Refleks
sucking atau refleks isap terjadi apabila terdapat benda menyentuh bibir, yang
disertai refleks menelan.
3) Reflek
Moro
Gendong
bayi dalam posisi setengah duduk, biarkan kepala dan badan bayi jatuh ke
belakang dengan sudut 30o atau tempatkan bayi pada permukaan yang
rata lalu hentakkan permukaan untuk mengejutkan bayi. Reflek tonic neck atau fencing
4) Reflek
withdrawal
Pemeriksaan
dilakukan dengan jarum untuk merangsang telapak kaki, maka akan terjadi fleksi
pada tungkai yang dirangsang dan terjadi ekstensi pada tungkai kontralateral.
5) Reflek
Babinski
Pada
telapak kaki, dimulai pada tumit, gores sisi lateral telapak kaki ke arah atas
kemudian gerakkan jari sepanjang telapak kaki. Reaksinya semua jari kaki
hiperekstensi dengan ibu jari dorsofleksi, dicatat sebagai hasil positif. Jika
refleks ini tidak ada, perlu dilakukan pemeriksaan neurologis. Harus hilang
setelah usia satu tahun.
6) Reflek
plantar grasp
Tempatkan
jari pada telapak kaki, maka akan terjadi fleksi jari-jari kaki. Respons
telapak kaki berkurang pada usia 8 bulan.
7) Reflek
palmar grasp
Tempatkan
jari pada telapak tangan, maka jari-jari bayi akan menggenggam jari pemeriksa.
Respons telapak tangan menurun pada usia 3-4 bulan.
d.
Pengukuran antropometri
1) Berat
badan
Berat
neonatus cukup bulan antara 2500 sampai 4000 gram. Penurunan berat badan lebih
dari 5% berat badan lahir menunjukkan kekurangan cairan.
2) Panjang
badan
Panjang
neonatus cukup bulan 45 sampai 54 cm.
3) Lingkar
kepala
a) Ukuran
lingkaran kepala
|
Sirkumferensia
Occipitomentalis
|
:
|
Diukur mengelilingi
kepala melewati os oksipitalis sampai
titik mentalis, besarnya ± 35 cm.
|
|
Sirkumferensia
Occipitofrontalis
|
:
|
Diukur mengelilingi
kepala melewati fontanella posterior,
eminentia parietalis, dan margo supraorbitalis, besarnya 33 cm
sampai 34 cm .
|
|
Sirkumferensia
suboccipito bregmatica
|
:
|
Diukur mengelilingi
kepala melewati protuberantia
occipitalis, eminentia parietalis,
dan bregma, besarnya 30 cm sampai
32 cm.
|
|
Sirkumferensia
submento bregmatica
|
:
|
Diukur mengelilingi
kepala melewati bawah dagu ke bregma,
besarnya ± 32 cm.
|
|
Sirkumferensia
montoverticalis
|
:
|
Diukur melingkar
melewati dagu ke atas sampai vertex,
besarnya 38 cm.
|
b) Lingkar
dada
Lingkar dada biasanya 2
cm lebih kecil dari lingkaran kepala. Panjang lingkar dada 30-38 cm.
c) Lingkar
lengan
Pengukuran dilakukan
pada pertengahan lengan bayi, normalnya 9-11 cm.
3. Analisa Data
Neonatus aterm usia …
fisiologis
4. Pelanatalaksana
a. Asuhan
Bayi Baru Lahir di Fasilitas Kesehatan
Asuhan Bayi Baru Lahir
di Fasilitas Kesehatan menurut Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial (2012) :
1) Pastikan
bayi tetap hangat
2) Isap lendir dari mulut dan hidung (hanya jika perlu)
3) Keringkan
4) Pemantauan tanda bahaya
5) Klem, potong tali pusat tanpa membubuhi apapun, kira-kira 2 menit setelah lahir
6) Lakukan Inisiasi Menyusui Dini
7) Berikan suntikan Vit K1 1 mg intramuskuler, di paha kiri anterolateral setelah Inisiasi Menyusui Dini
8) Beri salep mata antibiotika pada kedua mata
9) Pemeriksaan fisik
10) Beri imunisasi Hepatitis B 0,5 ml intramuskular di paha kanan anterolateral kira-kira 1-2 jam setelah pemberian VIT K1
b. Pemulangan
Bayi
Bayi
yang lahir di fasilitas kesehatan seharusnya dipulangkan minimal 24 jam setelah
lahir apabila selama pengawasan tidak dijumpai kelainan. Sedangkan pada bayi
yang lahir di rumah bayi dianggap dipulangkan pada saat petugas kesehatan
meninggalkan tempat persalinan. Pada bayi yang lahir normal dan tanpa masalah
petugas kesehatan meninggalkan tempat persalinan paling cepat 2 jam setelah
lahir.
c. Kunjungan
Ulang
Terdapat
minimal tiga kali kunjungan ulang bayi baru lahir :
1) Pada
usia 6 – 48 jam (kunjungan neonatal 1)
2) Pada
usia 3 – 7 hari (kunjungan neonatal 2)
3) Pada
usia 8 – 28 hari (kunjungan neonatal 3)
a) Lakukan
pemeriksaan fisik, timbang berat, periksa suhu, dan kebiasaan makan bayi.
b) Periksa
tanda bahaya :
c) Periksa
tanda – tanda infeksi kulit sperfisial, seperti nanah keluar dari umbilikus
kemerahan di sekitar umbilikus, adanya lebih dari 10 pustula di kulit,
pembengkakan, kemerahan, dan pengerasan kulit.
d) Bila
terdapat tanda bahaya atau infeksi, rujuk bayo ke fasilitas kesehatan.
e) Pastikan
ibu memberikan ASI eksklusif.
f) Tingkatkan
kebersihan dan rawat kulit, mata, serta tali pusat dengan baik.
g) Ingatkan
orang tua untuk mengurus akte kelahiran bayinya.
h) Rujuk
bayi untuk mendapatkan imunisasi pada waktunya.
i)
Jelaskan kepada orang
tua untuk waspada terhadap tanda bahaya pada bayinya.
a. Kunjungan
I (umur 6 jam – 3 hari)
1)
Melakukan observasi
TTV, BAB dan BAK untuk mencegah terjadinya tanda bahaya neonatus.
2)
Memberikan nutrisi,
yaitu pemberian ASI sebanyak 60 cc/ kg BB/ 24 jam pada hari pertama, 90 cc/ kg
BB/ 24 jam pada hari kedua, 120 cc/ kg BB/ 24 jam pada hari ketiga karena
utrisi penting untuk metabolisme tubuh.
3)
Memandikan bayi setelah
6 jam persalinan untuk mencegah hipotermi.
4)
Merawat tali pusat
untuk mencegah terjadinya infeksi.
5)
Menjaga kehangatan
dengan membedong bayi untuk menghindari hipotermi.
6)
Menjelaskan tanda
bahaya bayi baru lahir meliputi
a)
Hipotermi/ hipertermi
b)
Malas minum
c)
Tidak berkemih setelah
24 jam
d)
Mekonial belum keluar
setelah 3 hari pertama kelahiran
e)
Tali pusat menunjukkan
tanda – tanda infeksi
f)
Rewel dan menangis
terus
g)
Warna kulit sianosis
h)
Feces hijau/ berlendir/
berdarah
i)
Sulit bernapas
Agar
Ibu dapat memahami tanda bahaya BBL dan jika ada salah satu tanda yang muncul
dapat segera di tangani.
7)
Melakukan rawat gabung
karena dapat mencipkatan bounding antara
ibu dan bayi.
8)
Menjadwalkan kunjungan
ulang neonatus untuk mengevaluasi
keadaan bayi
b. Kunjungan
II (umur 4-7 hari)
1)
Melakukan observasi
TTV, BAB, dan BAK untuk Mencegah terjadinya tanda bahaya neonates.
2)
Mengevaluasi pemberiaan
nutrisi, yaitu pemberian ASI sebanyak 200cc/Kg BB/24 jam karena nutrisi penting
untuk metabolisme tubuh.
3)
Mengingatkan kembali
pada ibu tentang tanda bahaya pada neonatus
agar Ibu dapat memahami tanda bahaya pada neonatus
dan jika ada salah satu tanda yang muncul dapat segera di tangani.
4)
Menjadwalkan kunjungan
ulang neonatus untuk Mengevaluasi
keadaan bayi dan menjadwalkan program imunisasi.
c. Kunjungan
III (umur 8-14 hari)
1)
Observasi TTV, BAB, dan
BAK untuk Mencegah terjadinya tanda bahaya neonatus.
2)
Memberikan imunisasi
BCG untuk memberikan kekebalan tubuh bayi terhadap virus tuberculosis.
3)
Mengingatkan kembali
pada ibu tentang tanda bahaya neonatus
agar ibu dapat memahami tanda bahaya pada neonatus
dan jika ada salah satu tanda yang muncul dapat segera di tangani.
4)
Menjadwalkan kunjungan
ulang neonatal untuk Mengevaluasi
keadaan bayi dan menjadwalkan imunisasi selanjutnya.
d. Kunjungan
IV (umur ≥15 hari)
1)
Observasi TTV, BAB, dan
BAK untuk Mencegah terjadinya tanda bahaya neonatus.
2)
Memastikan bahawa bayi
sudah bisa menyusu dengan baik, minimal 2-4 jam sekali menyusu, berkemih 6-8
x/hari, dan gerakan bayi aktif.
3)
Mengingatkan kembali
pada ibu tentang tanda bahaya neonatus agar ibu dapat memahami tanda bahaya neonatus dan jika ada salah satu tanda
yang muncul dapat segera di tangani.
4)
Menjadwalkan kunjungan
neonatal dan mengingatkan pada ibu. jadwal imunisasi selanjutnya agar dapat
mengevaluasi keadaan bayi.
Serta
dilakukan evaluasi asuhan kebidanan pada neonatus,
tujuannya yaitu untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan tindakan kebidanan
yang dilakukan pada neonatus, efektif
jika sesuai dengan kriteria hasil menurut Menurut Sudarti (2010), yaitu:
(a)
Bayi dapat beradaptasi
dengan kehidupan di luar uterus.
(b) Tidak
terjadi infeksi.
2.2.4 Manajemen
Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas SOAP
A.
Data subjektif
Keluhan
utama
1)
Mules karena proses involusi selama 2 hari
2)
Nyeri pada luka jahitan perineum selama 3-7 hari
3)
Payudara terasa penuh pada post partum hari ke3
B.
Data objektif
a. Pemeriksaan
umum
1)
Keadaan umum : Baik
2)
Kesadaran : Composmentis
b. Tanda-tanda
vital
1)
Tekanan darah : Pada beberapa
kasus ditemukan keadaan hipertensi post partum..
2)
Nadi : Nadi antara 60-80 kali/menit. Denyut nadi di atas 100 kali/menit
pada masa nifas kemungkinan adanya infeksi..
3)
Suhu : Peningkatan suhu tubuh masa nifas pada umumnya disebabkan oleh
dehidrasi akibat keluarnya cairan pada waktu melahirkan. Pada umumnya, suhu
tubuh kembali normal setelah 12 jam post partum. Peningkatan suhu mencapai >
38oC mengarah ke tanda infeksi.
4)
Pernafasan : Pernafasan
harus berada dalam rentang normal (20-30 kali/menit).
c. Pemeriksaan
fisik
1) Mata
Konjungtiva merah muda, sclera putih
(Manuaba, 2007).
2) Payudara
Pada payudara, terjadi proses laktasi.
Pada keadaan fisiologis, tidak terdapat benjolan, pembesaran kelenjar atau
abses).
3) Abdomen
Setelah plasenta lahir TFU ± 2 jari
bawah pusat (Sarwono, 2006).
Perubahan dalam uterus meliputi involusi
atau pengerutan uterus merupakan suatu proses ketika uterus kembali ke kondisi
sebelum hamil dengan bobot 60 gram.
4) Genetalia
Setelah persalinan, vagina meregang dan
membentuk lorong berdinding lunak dan luas yang ukurannya secara perlahan
mengecil, tetapi jarang kembali ke ukuran nullipara. Lochea yang timbul pada
masa nifas hari pertama sampai hari ke-3 masa post partum adalah lochea rubra.
(Sulistyawati, 2009).
5) Ekstremitas
Sesudah
melahirkan terdapat resiko thrombosis vena dan emboli pulmoner yang nyata tetap
kecil kemungkinannya terjadi. Bagian betis harus diperiksa setiap hari untuk
menemukan gejala nyeri tekan serta panas di daerah tersebut dan kepada ibu
diminta untuk melaporkan setiap perasaan tidak enak pada tungkai. Terapi yang
didapat
(a) Pil
zat besi 40 tablet
(b) Vitamin
A 200.000 unit.
C. Analisa Data
PAPIAH
post partum hari ke 1 fisiologis
D. Pelaksanaa
Rencana asuhan pada
masa postpartum menurut Manuaba (2010), antara lain sebagai berikut:
a. Informasikan
hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga
R/ Informasi yang jelas
akan mengurangi ansietas ibu dan keluarga.
b. Memberikan
KIE tentang:
1) Nutrisi
Anjurkan ibu untuk
makan makanan yang bergizi, tinggi kalori dan protein serta tidak pantang
makan.
R/
Ibu nifas membutuhkan nutrisi yang lebih banyak untuk pemulihan kondisinya dan
juga ASI untuk bayinya.
2) Personal
hygine:
a) Sarankan
ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari.
b) Sarankan
ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan
daerah kelaminnya.
c) Jika
ibu mempunyai luka episiotomy atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk
menghindari menyentuh daerah luka.
R/
Mencegah terjadinya infeksi pada daerah perineum.
3) Istirahat
a) Anjurkan
ibu agar istirahat cukup pada siang kira-kira 2 jam dan malam 7-8 jam untuk
mencegah kelelahan yang berlebihan.
b) Sarankan
ibu untuk kembali ke kegiatan-kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan,
serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur.
R/
Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal: Mengurangi jumlah
ASI yang diproduksi, memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak
perdarahan, menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan
dirinya sendiri.
4) Perawatan
payudara, yaitu:
a)
Menjaga payudara tetap
bersih dan kering, terutama putting.
b)
Menggunakan bra yang
menyokong payudara.
c)
Apabila puting susu
lecet, oleskan ASI pada sekitar puting setiap selesai menyusui.
d)
Untuk menghilangkan
nyeri, ibu dapat minum parasetamol 1 tablet tiap 4-6 jam.
e)
Observasi tanda-tanda
vital, kontraksi uterus dan TFU.
R/
Sebagai parameter dan deteksi dini terjadinya komplikasi atau penyulit pada masa nifas.
f)
Memfasilitasi ibu dan
bayinya untuk rooming in dan mengajarkan cara menyusui yang benar.
R/
Rooming in akan menciptakan bounding attachment antara Ibu dan bayi. Dan cara
menyusui yang benar akan mencegah terjadinya lecet pada puting susu.
g)
Menjelaskan pada ibu tentang tanda bahaya masa
nifas (6 jam Post Partum)
R/
Agar ibu dan keluarga dapat menegenali tanda bahaya yang terdapat pada ibu dan
segera untuk mendapatkan pertolongan.
h)
Jadwalkan kunjungan ulang,
paling sedikit 4 kali kunjungan selama masa nifas.
R/
Menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan
menangani masalah-masalah yang terjadi
2.2.5
Manajemen Asuhan
Kebidanan pada KB SOAP
A.
Subjektif
1) Keluhan
utama
Ibu
ingin menjarangkan kehamilan dan ingin menggunakan alat kontrasepsi.
2) Riwayat
menstruasi
Amenorea,
menarche, siklus haid, dismenorea, HPHT, HPL.
B.
Objektif
1) Pemeriksaan
umum
(a) Keadaan
umum : komposmentis, yaitu pasien sadar sepenuhnya dan memberi respons
yang adekuat terhadap stimulus yang diberikan.
(b) Tanda-tanda
vital
(1) Tekanan
darah
Tekanan darah
rata-rata 110/70-120/80 mmHg (Potter dan Perry, 2005). Kontrasepsi progestin
boleh digunakan oleh wanita pada tekanan darah <180/110 mmHg (Saifuddin,
2010).
(2) Nadi,
Suhu, RR.
2) Pemeriksaan
fisik
(a) Mata
Sklera
warna putih, konjungtiva tidak pucat (Mandriwati, 2012).
(b) Payudara
Bentuk
simetris, putting susu menonjol (Mandriwati, 2012) tidak ada keganasan pada
payudara (Saifuddin, 2010).
(c) Abdomen
Bila
terjadi nyeri abdomen bawah yang berat kemungkinan gejala kehamilan ektopik
terganggu (Saifuddin, 2010).
(d) Ekstremitas
Normalnya
tidak terdapat edema. Edema dapat mengindikasikan penyakit kardivaskular.
C. Analisa Data
P_ _ _ _ _ akseptor
baru/ lama KB ___
D. Pelaksana
Menurut Manuaba (2010),
perencanaan yang dilakukan pada ibu nifas untuk persiapan KB, yaitu:
a. Menginformasikan
hasil pemeriksaan dan asuhan yang akan diberikan pada ibu dan keluarga.
R/
Informasi yang adekuat dapat mengurangi ansietas klien.
b. Memberikan
KIE tentang macam-macam metode kontrasepsi pasca persalinan.
c. Menjadwalkan
kunjungan ulang 1 minggu lagi atau sewaktu-waktu bila ada keluhan.
Tincoy Tail Tail Fencing Paddle - Titanium Dogs
BalasHapusThe first ever titanium tube plastic coated Fencing pads made from titanium auto sales titanium. · titanium hoop earrings Tincoy citizen eco drive titanium watch Tail titaum Fencing Pro Shaft · The Fencing Shaft